…uno momento.

Entries from November 2008

an offline message

November 28, 2008 · Leave a Comment

“*****_**** : …by the way, the other person is YOU.”

Offline message closed and deleted.

Here’s the thing, i don’t wanna be the other person. I want to be the person.

Categories: my 2 cents

Nothing, None, Nada, Nanimo Imasen.

November 28, 2008 · Leave a Comment

Little did she knows that her hunch was right. Later on she’ll feel funny for things she’s done.

Not the happy funny. It’s the wearing your shirt backward, left your wallet at home, say things you didn’t mean to say, kind of funny. You feel it tickling you from inside makes you uneasy. All that she can do is keep laughing like fool since there’s nothing funny. she only do that to make it funny.

She’s alerted and totally aware on what she was doing, silly billy she said but what is life without a sprinkles of silly billy things….

She tried to make things funny and shiny happy. Because she really wants it to be so.

Then things really is become so crazy funny, it’s her shelter.

Still, she feels crazily hungry in the morning, bloated in the afternoon and empty at night.

Categories: my 2 cents
Tagged:

Zero = Perfection

November 25, 2008 · 1 Comment

Back then, I always thought that One plus One is One in relationship. Two become one said the not-so-spicy anymore girls from UK. One of a kind personality met another one of a kind personality. Tumbling, free-wheeling in an endless diamond sky :D then hopefully in a hundred years or so they will complete each other, and live happily ever after in the name of fondness, physical attraction and tonnes of mutual crush.

They said that you have to find the one. The one that done a lot of bad things, mannerless stuff and sumhow you still love them, even more. They said you have to be the one. The one that dare to showed up before shower, no make up, and got accepted and be loved for who you are.

I just went out of a relationship, been trying to be the one and fit my own idea of “the one” with my partner. at the end, it doesn’t really works. actually, didn’t work at all.

The more i try to get close, the road became longer and i realised how i’ve been walking down the road alone this whole time. I was there, and he was nowhere near. He left me part dead and incomplete during the time. When i decided to take another turn, when we decided to stop, i was gasped. Nothing i can hold on to.

It strucked me, how i’ve been relying all of me to his existence. Existence that was none. i hold on to nothing but my own idea of happiness. It’s bad for my self esteem.

Years ago i watched a movie by Kim Ki Duk, Korean Director, “3-Iron (2004)”. In Korean it’s read as Bin-jip means Empty Houses.

The whole idea of the story is relationship between a loner man, who loves to break into empty houses. at one house, he presume to be empty a battered housewife. The movie is notable for the lack of dialogue between two characters. He witnessed how she is abused by her husband. He took her away and their silent relationship began along with their travel from one house to another.

At the end of the movie, both of them stepped into a scale. the number showed “0″. as they’re completed each other. balanced.

the idea of 1+1 suddenly ripped out of my head. Cos i thought it was “1″, it turns out to be right, and look who’s been left 1?

Categories: Uncategorized
Tagged: , , ,

nobody wants to be alone

November 19, 2008 · Leave a Comment

…i know.

But i feel like, i need to give myself some time alone, space from everybody else, so i have the chance to get to know me and what i really wanted.

Categories: my 2 cents
Tagged:

I’m Looking….

November 17, 2008 · Leave a Comment

….for LOVE

Real Love. Ridiculous, inconvenient, consuming, can’t-live-without-each-other-love 

Carrie Bradshaw

100_1596

Categories: my 2 cents
Tagged: , ,

Pijet Ulang Tahun

November 3, 2008 · 1 Comment

Orang Cina punya tradisi menghidangkan Mie Goreng Ulang Tahun pada setiap perayaan ulang tahun. Mie Goreng Ulang Tahun adalah Mie telur yang ditumis bersama beberapa macam sayuran dan telur puyuh yang digoreng terlebih dahulu sehingga berwarna keemasan cantik. Ada tradisi lain yaitu orang yang berulang tahun diharuskan makan misoa dan telur merah. Misoa terbuat dari tepung beras, dipilin dan ditarik-tarik hingga pecah berhelai-helai seperti rambut putih. Karena itu, Misoa melambangkan umur panjang dan telur rebus yang diberi pewarna merah adalah lambang kemakmuran. Kenapa telur? karena bagi orang Cina yang terkenal bersahaja, telur adalah makanan istimewa hampir setingkat daging.

 

Misoa dianggap lebih bergengsi daripada mie goreng ulang tahun, mungkin karena filosofinya. Mungkin juga karena teksturnya yang lebih lembut, lebih bersahabat bagi orang tua dan anak kecil.

 

Anak-anak suku Masai, Afrika lain lagi. Mereka yang berulang tahun ketiga belas diharuskan keluar rumah dan belajar menjadi prajurit perang. Wajah merekapun diberi ”coretan” warna putih yang melambangkan kedewasaan. Bisa dikatakan, ulang tahun tidak dirayakan dengan pesta di Afrika melainkan upacara adat. Wah, kalau anak-anak pada umumnya membayangkan kado apa yang akan mereka dapat di hari Ulang tahun, gue rasa anak-anak di Afrika malah membayangkan seperti apa kehidupan mereka akan berubah setelah ulang tahun.

 

Gue pernah baca suatu artikel, maaf lupa koran atau majalah apa. Bahwa, di Denmark ada tradisi untuk orang yang masih melajang di usia ke 30, maka mereka akan diberi hadiah tempat merica dan selanjutnya disebut sebagai ”Pepperman” dan ”Peppermaid”

Kurang jelas juga gue, maksud dan tujuannya apa hehehhee…..

 

Tanggal 20 Oktober 2008 yang lalu, gue resmi melewati usia keramat 25 tahun. Sekarang gue 26 tahun. Agak kaget sebenernya, setahun kemarin gue merasa masih bisa bersembunyi dibalik predikat young adult. Tahun ini seolah, gue officially an adult. Gue tahu, gue tahu, dari kemaren-kemaren juga udah adult heheheheh.

Tahun ini lebih gencar lagi seluruh khalayak ramai menanyakan kapan gue akan berumah tangga. Pertanyaan klasik yang kadang diucapkan hanya sebagai basa-basi namun menusuk hati yang ditanya. Kalau gue pikir-pikir lagi, bentuk pertanyaan itu mengalami metamorfosa yang sebenernya semakin tahun semakin tajam bagai sembilu.

 

Ketika ulang tahun gue ke 24:

Tanya : ”Wah…wah… udah cocok untuk berumah tangga nih. Udah ada  calonnya  belum?”

Jawab : ”Yaa….temen deket sih udah ada.” sambil malu-malu mupeng.

 

 

Ketika ulang tahun gue ke 25:

Tanya : ”Kapan menikah?”

Jawab : ”Insya Allah, ya didoain aja.” Mulai geleh dan kata-kata ini diulang sedemikian sering sepanjang tahun, terutama di acara pernikahan teman dan kerabat.

 

Ulang tahun ke 26 kemarin:

Tanya : ”Loh, belum menikah? Kok belum menikah sih?”

Jawab : ”Menurut lo?”

 

Yah, gue tahu orang-orang yang bertanya itu sayang sama gue. Mereka hanya mendoakan kebahagiaan gue. Di budaya timur, ketika seorang wanita mencapai usia dua puluhan maka dia dianggap sudah siap berumah tangga. Terlambat sedikit, seluruh dunia pun panik…. apapun alasan penundaan itu. Kepanikan ini kalau ditanggapi dengan sentimental bikin gue sedih namun kalau gue lagi ehm…bijak, jadi lucu. Perwujudan kepanikan massa ini adalah mencecar gue apakah gue punya trauma karena masalah pernikahan orang tua gue, usaha yang sangat aktif untuk mengajak gue terlibat dalam acara pernikahan dan kelahiran, Kebaikan semua orang dalam mempertemukan gue dengan beberapa laki-laki. Gue gak akan menyebut ini perjodohan, karena gue gak merasa dipaksa dan gak akan mau dipaksa. Mungkin lebih enak disebut memperkenalkan. Selama ini, semua baik-baik aja. Meski tidak berlanjut ke arah cinta-cintaan namun cukup untuk menambah teman dan saudara.

 

Untuk menghentikan pertanyaan dan perjodohan ini adalah tidak mungkin, sampai pada akhirnya gue menikah. Gue punya pacar yang selalu gue ajak ke acara keluarga, namun keluarga gue pada bilang ”Kelamaaan”. Perkataan yang tidak mungkin gue jawab dengan ”Aku mau menikah karena aku mau menikah, dengan orang yang mau aku nikahi. Bukan karena aku harus menikah.” kalimat yang dengan gayanya selalu gue ulang-ulang kepada para penanya yang bukan saudara. Bisa-bisa dibikinin Rukhiyat-an buat mengusir roh jahat dalam diri gue.

 

Sejak beberapa waktu lalu, gue udah memikirkan apa yang mau gue lakuin di ulang tahun gue kali ini. Harus sesuatu yang unik dan belum pernah gue lakuin.

Beberapa hari sebelum ulang tahun, gue berangkat ke Bali untuk ikut Ubud Writers and Readers Festival. Seneng-seneng, makan-makan, nulis-nulis dan kaki gue pun keseleo. Setiap malem selama disana harus diboreh balsem otot dan pake koyo, lupakan CK Summer, this gramps couldn’t handle her sore knee.

 

Tanggal 20 Oktober, gue udah di Jakarta lagi. Beruntung gue cuti. Akhirnya, gue merayakan ulang tahun dengan urut keseleo di Daerah Cipete. Setelah nyasar-nyasar yang sepertinya tidak mungkin tidak terjadi, sampailah di sebuah rumah yang cukup ramai. Bentuk sederhana dari klinik tersebut sudah lumayan terorganisir. Ketika datang, gue harus ambil nomor antrian, trus menunggu sambil prangas pringis ngeliat orang-orang teriak kesakitan ketika dipijit. Saat itu, gue benar-benar berharap 61 adalah nomor keberuntungan gue. Seperti angka 3 yang melambangkan kekayaan bagi orang Cina, atau angka 8 yang berarti kemakmuran. Sambil komat-kamit memohon kepada Tuhan agar sekali ini gue tahan sakit, gue menimang-nimang kertas bertuliskan angka itu.

6 dan 1, enam tambah satu kan tujuh ya. Nah, itu angka keberuntungan gue. Or so….

Akhirnya giliran gue pun tiba, dengan berdebar-debar gue menghampiri Bapak setengah baya yang berwajah baik itu. Dia langsung menemukan permasalahannya. Di pergelangan kaki kanan dan Lutut kiri. Dia bilang inilah akibatnya kalau keseleo tapi masih dibawa jalan-jalan. Memang sih, tadinya kaki gue gak sesakit ini, setelah lima hari di Bali, sakitnya tambah parah. Ketika dipijit, aduh…gue gak usah ceritain deh. Intinya gue sampe keringat dingin dan zikir lebih banyak dari yang gue lakuin setahun ini. Sangat berdosa (baca keras dengan suara Spongebob).

 

Durasi pijitnya cuma sebentar, paling 15-20 menit. Untunglah, lebih dari itu, gue bisa pingsan.

 

Setelahnya pegelangan kaki kanan gue dibalut dengan kassa yang dilumuri minyak ramuan sendiri. Lalu dikasih secarik kertas berisi pantangan makan. Pembayaran urut disini sukarela aja.

 

Sambil jalan keluar gue baca pantangan makannya.

Udang, Ayam, Ikan Tongkol, Ikan Bandeng, Alkohol, Pisang, Durian, Nanas, Nangka, Es dan Mie Instan

Dan terbayanglah dimata gue, makan malam di seafood Jimbaran, wine tasting di Casa Luna dan nyaris setiap hari makan nasi campur Bali, dimana setiap malam setelahnya gue terkaing-kaing kesakitan.

 

Oh well, so now i know.

 

Kalau dalam setiap ulang tahun ada pelajaran yang gue dapet, maka tahun ini adalah:

Mungkin gue gak sejagoan yang gue kira, mungkin angka memang berarti sesuatu.

Tapi sesuatu itu yang jelas bukan Peppermaid. Gue yakin, gue lebih keren daripada botol merica.

 

 

Alamat Tukang Urut Patah Tulang

H. Naim Jl. MPR III Dalam No. 24

Cilandak Barat – Jakarta Selatan

Tutup setiap hari Jum’at.

 

 

Categories: People
Tagged: , , , ,