Orang Cina punya tradisi menghidangkan Mie Goreng Ulang Tahun pada setiap perayaan ulang tahun. Mie Goreng Ulang Tahun adalah Mie telur yang ditumis bersama beberapa macam sayuran dan telur puyuh yang digoreng terlebih dahulu sehingga berwarna keemasan cantik. Ada tradisi lain yaitu orang yang berulang tahun diharuskan makan misoa dan telur merah. Misoa terbuat dari tepung beras, dipilin dan ditarik-tarik hingga pecah berhelai-helai seperti rambut putih. Karena itu, Misoa melambangkan umur panjang dan telur rebus yang diberi pewarna merah adalah lambang kemakmuran. Kenapa telur? karena bagi orang Cina yang terkenal bersahaja, telur adalah makanan istimewa hampir setingkat daging.
Misoa dianggap lebih bergengsi daripada mie goreng ulang tahun, mungkin karena filosofinya. Mungkin juga karena teksturnya yang lebih lembut, lebih bersahabat bagi orang tua dan anak kecil.
Anak-anak suku Masai, Afrika lain lagi. Mereka yang berulang tahun ketiga belas diharuskan keluar rumah dan belajar menjadi prajurit perang. Wajah merekapun diberi ”coretan” warna putih yang melambangkan kedewasaan. Bisa dikatakan, ulang tahun tidak dirayakan dengan pesta di Afrika melainkan upacara adat. Wah, kalau anak-anak pada umumnya membayangkan kado apa yang akan mereka dapat di hari Ulang tahun, gue rasa anak-anak di Afrika malah membayangkan seperti apa kehidupan mereka akan berubah setelah ulang tahun.
Gue pernah baca suatu artikel, maaf lupa koran atau majalah apa. Bahwa, di Denmark ada tradisi untuk orang yang masih melajang di usia ke 30, maka mereka akan diberi hadiah tempat merica dan selanjutnya disebut sebagai ”Pepperman” dan ”Peppermaid”
Kurang jelas juga gue, maksud dan tujuannya apa hehehhee…..
Tanggal 20 Oktober 2008 yang lalu, gue resmi melewati usia keramat 25 tahun. Sekarang gue 26 tahun. Agak kaget sebenernya, setahun kemarin gue merasa masih bisa bersembunyi dibalik predikat young adult. Tahun ini seolah, gue officially an adult. Gue tahu, gue tahu, dari kemaren-kemaren juga udah adult heheheheh.
Tahun ini lebih gencar lagi seluruh khalayak ramai menanyakan kapan gue akan berumah tangga. Pertanyaan klasik yang kadang diucapkan hanya sebagai basa-basi namun menusuk hati yang ditanya. Kalau gue pikir-pikir lagi, bentuk pertanyaan itu mengalami metamorfosa yang sebenernya semakin tahun semakin tajam bagai sembilu.
Ketika ulang tahun gue ke 24:
Tanya : ”Wah…wah… udah cocok untuk berumah tangga nih. Udah ada calonnya belum?”
Jawab : ”Yaa….temen deket sih udah ada.” sambil malu-malu mupeng.
Ketika ulang tahun gue ke 25:
Tanya : ”Kapan menikah?”
Jawab : ”Insya Allah, ya didoain aja.” Mulai geleh dan kata-kata ini diulang sedemikian sering sepanjang tahun, terutama di acara pernikahan teman dan kerabat.
Ulang tahun ke 26 kemarin:
Tanya : ”Loh, belum menikah? Kok belum menikah sih?”
Jawab : ”Menurut lo?”
Yah, gue tahu orang-orang yang bertanya itu sayang sama gue. Mereka hanya mendoakan kebahagiaan gue. Di budaya timur, ketika seorang wanita mencapai usia dua puluhan maka dia dianggap sudah siap berumah tangga. Terlambat sedikit, seluruh dunia pun panik…. apapun alasan penundaan itu. Kepanikan ini kalau ditanggapi dengan sentimental bikin gue sedih namun kalau gue lagi ehm…bijak, jadi lucu. Perwujudan kepanikan massa ini adalah mencecar gue apakah gue punya trauma karena masalah pernikahan orang tua gue, usaha yang sangat aktif untuk mengajak gue terlibat dalam acara pernikahan dan kelahiran, Kebaikan semua orang dalam mempertemukan gue dengan beberapa laki-laki. Gue gak akan menyebut ini perjodohan, karena gue gak merasa dipaksa dan gak akan mau dipaksa. Mungkin lebih enak disebut memperkenalkan. Selama ini, semua baik-baik aja. Meski tidak berlanjut ke arah cinta-cintaan namun cukup untuk menambah teman dan saudara.
Untuk menghentikan pertanyaan dan perjodohan ini adalah tidak mungkin, sampai pada akhirnya gue menikah. Gue punya pacar yang selalu gue ajak ke acara keluarga, namun keluarga gue pada bilang ”Kelamaaan”. Perkataan yang tidak mungkin gue jawab dengan ”Aku mau menikah karena aku mau menikah, dengan orang yang mau aku nikahi. Bukan karena aku harus menikah.” kalimat yang dengan gayanya selalu gue ulang-ulang kepada para penanya yang bukan saudara. Bisa-bisa dibikinin Rukhiyat-an buat mengusir roh jahat dalam diri gue.
Sejak beberapa waktu lalu, gue udah memikirkan apa yang mau gue lakuin di ulang tahun gue kali ini. Harus sesuatu yang unik dan belum pernah gue lakuin.
Beberapa hari sebelum ulang tahun, gue berangkat ke Bali untuk ikut Ubud Writers and Readers Festival. Seneng-seneng, makan-makan, nulis-nulis dan kaki gue pun keseleo. Setiap malem selama disana harus diboreh balsem otot dan pake koyo, lupakan CK Summer, this gramps couldn’t handle her sore knee.
Tanggal 20 Oktober, gue udah di Jakarta lagi. Beruntung gue cuti. Akhirnya, gue merayakan ulang tahun dengan urut keseleo di Daerah Cipete. Setelah nyasar-nyasar yang sepertinya tidak mungkin tidak terjadi, sampailah di sebuah rumah yang cukup ramai. Bentuk sederhana dari klinik tersebut sudah lumayan terorganisir. Ketika datang, gue harus ambil nomor antrian, trus menunggu sambil prangas pringis ngeliat orang-orang teriak kesakitan ketika dipijit. Saat itu, gue benar-benar berharap 61 adalah nomor keberuntungan gue. Seperti angka 3 yang melambangkan kekayaan bagi orang Cina, atau angka 8 yang berarti kemakmuran. Sambil komat-kamit memohon kepada Tuhan agar sekali ini gue tahan sakit, gue menimang-nimang kertas bertuliskan angka itu.
6 dan 1, enam tambah satu kan tujuh ya. Nah, itu angka keberuntungan gue. Or so….
Akhirnya giliran gue pun tiba, dengan berdebar-debar gue menghampiri Bapak setengah baya yang berwajah baik itu. Dia langsung menemukan permasalahannya. Di pergelangan kaki kanan dan Lutut kiri. Dia bilang inilah akibatnya kalau keseleo tapi masih dibawa jalan-jalan. Memang sih, tadinya kaki gue gak sesakit ini, setelah lima hari di Bali, sakitnya tambah parah. Ketika dipijit, aduh…gue gak usah ceritain deh. Intinya gue sampe keringat dingin dan zikir lebih banyak dari yang gue lakuin setahun ini. Sangat berdosa (baca keras dengan suara Spongebob).
Durasi pijitnya cuma sebentar, paling 15-20 menit. Untunglah, lebih dari itu, gue bisa pingsan.
Setelahnya pegelangan kaki kanan gue dibalut dengan kassa yang dilumuri minyak ramuan sendiri. Lalu dikasih secarik kertas berisi pantangan makan. Pembayaran urut disini sukarela aja.
Sambil jalan keluar gue baca pantangan makannya.
Udang, Ayam, Ikan Tongkol, Ikan Bandeng, Alkohol, Pisang, Durian, Nanas, Nangka, Es dan Mie Instan
Dan terbayanglah dimata gue, makan malam di seafood Jimbaran, wine tasting di Casa Luna dan nyaris setiap hari makan nasi campur Bali, dimana setiap malam setelahnya gue terkaing-kaing kesakitan.
Oh well, so now i know.
Kalau dalam setiap ulang tahun ada pelajaran yang gue dapet, maka tahun ini adalah:
Mungkin gue gak sejagoan yang gue kira, mungkin angka memang berarti sesuatu.
Tapi sesuatu itu yang jelas bukan Peppermaid. Gue yakin, gue lebih keren daripada botol merica.
Alamat Tukang Urut Patah Tulang
H. Naim Jl. MPR III Dalam No. 24
Cilandak Barat – Jakarta Selatan
Tutup setiap hari Jum’at.

